Pendidikan bersifat subyektif dan transendental, agar menjadi

Pendidikan merupakan bagian dari tugas kehalifahan
manusia yang harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. Kemudian pertanggung
jawaban itu baru bisa dituntut kalau ada aturan dan pedoman pelaksanaan, oleh
karenanya Islam tentunya memberikan garis-garis besar tentang pelaksanaan
pendidikan tersebut. Pendidikan memberikan konsep-konsep yang mendasar tentang kehidupan manusia, dan
menjadi tanggung jawab manusia untuk menjabarkan dengan mengaflikasikan
konsep-konsep dasar tersebut dalam peraktek kependidikan.1

Dengan pendidikan manusia biasa mempertahankan
kekahalifahannya sebagaimana pendidikan adalah hal pokok yang membedakan antara
manusia dengan makhluk yang lainya. Dan pendidikan yang diberikan atau di
pelajari harus dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagai mediasi nilai-nilai
kemanusiaan itu sendiri. Akan tetapi dalam pengaflikasiannya yang dilakukan
oleh umatnya kadang melenceng dari esensi ajaran agam itu sendiri. Hal inilah
yang harus menjadi perhatian dasar pendidikan.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Dengan demikian, ajaran dalam pendidikan sarat dengan nilai-nilai yang bisa diterpakan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi semua itu masih bersifat subyektif dan transendental,
agar menjadi sebuah konsep yang obyektif dan membumi perlu didekati dengan
keilmuan, atau sebaliknya perlu disusun konsep yang obyektif, teori, atau ilmu
pendidikan dalam menggunakan paradigma Islam yang serat dengan nilai-nilai pendidikan.2 

Pemikiran semacam ini kiranya saat ini memiliki momentum
yang tepat karena dunia pendidikan sedang menghadapi krisis konseptual.3
Disamping karena begitu cepatnya terjadi perubahan sosial yang sulit di
prediksi, dalam konteks untuk menemukan konsep pendidikan ideal, maka menjadi
tanggung jawab moral bagi setiap pakar pendidikan untuk membangun teori
pendidikan sebagai paradigma.4

Pada saat ini pendidikan pada umumnya
menghadapi beberapa tantangan zaman dan persaingan tingkat global. Dilihat pada
satu sisi, pendidikan yang mengedepankan sisi intelektual saja dalam
perkembangan anak menjanjikan kualitas anak itu sendiri, namun di sisi lain hal
itu mengakibatkan berkurangnya perhatian pada sisi emosional dan spiritual.
Salah satu yang berkaitan dengan sisi emosional tersebut adalah cara
berhubungan dengan orang lai yang mana dalam hal ini biasa dengan berbudaya.

Pendidikan di tengah medan kebudayaan
(culture area), berproses merajut dua substansi ras kultural, yaitu di
samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara
berkesinambungan mewujudkan ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya. A multicultural country merupakan
sebutan yang sangat cocok untuk Indonesia. Betapa tidak, keragaman agama dan
kepercayaan, bahkan suku yang terpencar di lebih dari 17.000 pulau, keunikan
bahasa daerah yang menempati jumlah terbanyak di dunia (lebih dari 500 bahasa
daerah) dan sejumlah keragaman lain adalah potensi dan keunikan yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Akan tetapi keragaman dan
keunikan tersebut selama ini tidak mendapatkan tempat dalam proses pembangunan,
terutama dalam dunia pendidikan.

Paradigma pembangunan pendidikan kita yang sangat
sentralistik telah melupakan keragaman yang sekaligus kekayaan dan potensi yang
dimiliki oleh bangsa ini. Perkelahian, kerusuhan, permusuhan, munculnya
kelompok yang memiliki perasaan bahwa hanya budayanyalah (etnosentrisme) yang lebih
baik dari budaya lain adalah buah dari pengabaian keragaman tersebut dalam
dunia pendidikan kita.

diversitas didefinisikan
sebagai pengetahuan kesadaran perbedaan antara individu / per seorangan.
Perbedaan ini meliputi ras, jenis kelamin, orientasi seksual, agama, latar
belakang, status sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Sedangkan multikultural
dapat dimaknai sebagai sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan
dalam kesedarajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan.5 Dari hal
itu, dapat ditarik kesimpulan bahawa perbedaan antara diversitas dan
multikultural adalah jika diversitas lebih menekankan pada perbedaan antar
individu sedangkan multikultural itu lebih menekankan pada perbedaan suatu
kelompok / budaya. Meski demikian, diversitas menjadi bagian dari multikultural
nda memiliki tujuan yang sama yaitu usaha untuk saling mengetahui, memahami,
menerima dan menghormati.

Salah satu pendidikan formal yang concern
dalam mendidik anak dalam pendidikan diversitas (keragaman) baik secara budaya,
latar belakang orang tua, dan sosial di Kabupaten Probolinggo adalah Pendidikan
formal di lingkungan Pondok Pesantren Al-Masduqiah Desa Patokan Kecamatan
Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Dan adapun pendidikan formal di Pondok
Pesantren Al-Masduqiah adalah Sekolah Menengah Pertama Al-Masduqiah (SMP
Al-Masduqiah) dan MA. Al-Masduqiah (MA Al-Masduqiah).  SMP dan MA Al Masduqiah menjadi tempat yang
menarik untuk diteliti adalah karena lembaga formal di bawah naungan Pondok
Pesantren Al Masduqiah tersebut melakukan pendidikan yang sustainable
(keberlanjutan) dan terpadu. Yang dimaksud pendidikan sustainable disini adalah
para siswa yang lulus dari SMP Al Masduqiah diharuskan untuk melanjutkan
pendidikannya di MA Al Masduqiah. Hal ini dikarenakan pola pendidikan yang
diterapkan adalah pendidikan berbasis Halqotul Mu’allimin Al –
Islamiah (HAMIM). Halqotul Mu’allimin Al –
Islamiah (HAMIM)di pesantren tersebut adalah pendidikan yang
mengharuskan anak didiknya menempuh pendidikan selama 6 tahun, yang tentunya
waktu tempuh itu dimulai dari SMP kemudian dilanjutkan ke Madrasah Aliyah.
Kemudian pendidikan yang terpadu disini mempunyai arti bahwa dari jenjang SMP
dan MA adalah pengelolaan dalam pengajaran dan pembelejaran diberlakukan secara
terpadu baik dari segi materi, metode dan kurikulumnya, hal ini tentunya juga
tanpa menghilangkan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Lebih lanjut,
semua siswa yag ada dalam menempuh pendidikan baik di SMP dan MA Al Masduqiah
haruslah tinggal dan berdomisili di dalam lingkungan pesantren, (O2.052-058/T3)
hal ini dilakukan supaya terdapat pembinaan yang terintegrasi di sekolah dan
pesantren untuk bisa ditanamkan nilai-nilai dari pendidikan diverstitas
(keragaman), lebih lanjut  Pembelajaran multikultural pun harus dimulai dari saling
mengenalkan/saling mengetahui antar santri terlebih dahulu akan keberagaman
masing-masing santri tersebut baik status sosialnya, ekonominya, umurnya,
asalnya dan lain sebagainya untuk kemudian bisa diakui dan diterima oleh santri
yang lain (O2.090-094/T3). Hal ini lah yang menjadi alasan peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian akan pendidikan diversitas sebagai bagian
dari implementasi pendidikan multikultural yang kemudian hal ini diajarkan
secara terintegrasi dan terpadu kepada siswa di lingkungan pendidikan formal
dan pesantren Al Masduqiah itu sendiri.

Selanjutnya, dari catatan awal grand
tour peneliti, sebenarnya implementasi pendidikan
multikultural di ada dalam setiap pembelajaran dalam pendidikan formal di
Pondok Pesantren Al Masduqiah, namun penggunaan istilah pendidikan
multikultural ini tidak digunakan secara langsung dan tidak diekspos diluar.
Hal ini dapat dilihat  dari latar
belakang siswa yang menempuh di pendidikan formal di Pondok Pesantren Al
Masduqiah adalah dari berbagai golongan dan dari berbagai macam background,
jika dilihat dari organisasi keagamaannya ada yang datang dari golongan NU
(Nahdlatul Ulama’), Muhammadiyah, dan dari golongan yang kanan. Dan jika
dilihat dari background pekerjaan orang tuanya ada yang dari kalangan
pebisnis, guru, pengusaha, kiai, petani, karyawan, dokter, dan orang
pemerintahan seperti PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dan jika dilihat dari segi
geografis, maka ada siswa yang berasal dari daerah Kawasan Probolinggo yang
memang sudah beragam baik dari daerah pegunungan, dataran rendah, atau pun dari
daerah pesisir. Hal ini juga ditambah siswa dari luar Kabupaten Probolinggo
seperti Madura, Lumajang, Jember dan Jakarta. Dari berbagai macam background
itulah yang mana pada awalnya siswa hanya bergaul dengan golongan yang orang
tuanya mempunyai latar belakang yang sama atau dari daerah yang sama, seperti
anak PNS yang bergaulnya dengan anak PNS, anak dari kiai yang bergaulnya dengan
anak kiai dan anak petani bergaulnya dengan anak petani. Hal inilah yang Kemudian
menjadi perhatian dari pengasuh Pondok Pesantren Al Masduqiah yaitu KH. Dr.
Muchlisin, M. Pd menekankan bahwa guru harus mendidik siswa siswa supaya siswa
dapat untuk dapat bergaul dengan semua kalangan, tidak hanya berdasarkan
golongan dan strata sosial dan ekonomi. Dari situlah dapat ditarik kesimpulan
bahwa pendidikan multikultural pun diterapkan dan sekali lagi meskipun tidak
harus diekspos dan di bannerkan di jalan-jalan (W6.036-059/S1/T3)

Dari hasil observasi awal tersebut,
peneliti dapat menyimpulkan bahwa Pendidikan formal di Pondok Pesantren Al
Masduqiah yang selain mendidik anak dalam ranah intelektual sehingga dapat
bersaing secara akademis, juga mendidik anak supaya sadar akan keberagaman
latar belakang mereka sehingga mereka dapat memiliki nilai dari sikap kepekaan
akan keberagaman. Hal ini mempunyai tujuan supaya sikap keegoisan dan tidak menyadari akan budaya orang
lain baik dari latar belakang budaya, status ekonomi dan keberagaman lainnya yang
cenderung melihat dunia melalui filter budayanya sendiri yang kental yang
dimiliki oleh siswa dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat menjadi manusia
yang memahami keberagaman secara utuh.

Selanjutnya, pendidikan multikultural menjadi opsi yang
diterapkan oleh Pendidikan Formal di Pondok Pesantren Al Masduqiah guna
mencapai tujuannya yaitu menanamkan nilai-nilai diversitas pada anak didiknya. Dari sinilah tercipta ruang dan sebuah struktur
yang peka akan
keberagaman, toleran, dan
inklusif di lingkungan pendidikan tersebut.

Karena hal tersebut unik dan menarik menurut peneliti,
maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian tentang Pendidikan Diversitas Di SMP dan MA Plus Pesantren Al
Madusqiah Kraksaan Probolinggo

1 Zuhairini ,dkk. 1995. Filsfat Pendidikan Islam, Cet. 2 Jakarta: Bunyi Aksara, Hal. 148

2 Abddurahman Maud, dkk. 2001. Paradigma pendidikan Islam, cet 1 Yogyakarta : Pustaka Pelajar, bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN walisongo
Semarang, Hal. 19

3 Ibid, 20

4 Paradigma secara etimologi berasal dari bahasa inggris paradigm
berarti type of something, model, (bentuk sesuatu, model, pola) lihat A.S.Hornby, 1989. Advanced Learners
Pictionary Of Curent, English, Fourth Edition AS : oxford University press. Hal. 895

5 Jary David dan Julia
Jary. 1991. Multiculturalism: Dictionary of Sociology. New York: Harper
Hal. 319 

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out