II.1 G.1998) II.1.1 Dry Sandblasting Dry sandblasting biasa

II.1 Sandblasting

Sandblasting
merupakan proses yang diadaptasi dari teknologi yang biasa digunakan oleh
perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang oli &gas, industri, ataupun
fabrikasi guna membersihkan lapisan yang menutupi sebuah obyek yang biasanya
berbahan dasar besi atau metal dengan bantuan butiran pasir khusus yang
ditembaki langsung dari sebuah kompresor bertekanan tinggi. (Batis, G.1998)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

II.1.1
Dry Sandblasting

Dry sandblasting biasa diaplikasikan ke benda-benda berbahan metal/besi yang tidak beresiko
terbakar, seperti tiang-tiang pancang, bodi dan rangka mobil, bodi kapal laut
dan lain-lain.

II.1.2 Wet Sandblasting

Wet Sandblasting diaplikasikan ke benda-benda berbahan metal/besi yang beresiko terbakar
atau terletak di daerah yang beresiko terjadi kebakaran, seperti tangki bahan
bakar, kilang minyak (offshore),
ataupun pom bensin, pasir silica yang digunakan dicampur dengan bahan kimia
khusus anti karat yang berguna untuk meminimalisir percikan api saat proses sandblasting terjadi. Namun begitu, alat
yang digunakan tetaplah sama, terdiri dari kompresor, dan selan serta pistol
tembak.

II.2 OWAS(Ovako Working Analysis System)

Ovako Working Posture Analysis (OWAS) menyajikan
analisis ergonomi yang dapat memeriksa tingkat kenyamanan suatu operasi kerja.
OWAS memberikan informasi mengenai seberapa penting postur dari suatu pekerjaan
harus diubah agar dapat memberikan kenyamanan saat bekerja bagi pekerja (Osmo Karhu, Applied
Ergonomics, 1977).  Menggunakan OWAS, kita dapat:

·        
Evaluasi ketidaknyamanan dari postur bekerja
berdasarkan posisi punggung, lengan, kaki, dan juga beban benda.

·        
Menentukan postur dari suatu pekerjaan yang
harus diperbaiki untuk mengindari potensi pekerja mengalami cedera.

II.2.1 Kegunaan

·        
Menentukan postur dari suatu pekerjaan yang harus
diperbaiki untuk mengindari potensi pekerja mengalami cedera.

·        
Desain penugasan baru atau sebagai acuan untuk
redesain pekerjaan aktual agar lebih nyaman dan meningkatkan kualitas produksi.

·        
Identifikasi dan penyusunan skala prioritas
postur tubuh yang mana yang memerlukan perbaikan segera dari sisi ergonomi.

II.2.2 Informasi
yang Didapat

OWAS akan menyajikan skor yang
merepresentasikan status dari postur tubuh suatu pekerjaan yang berasal dari
skor postur punggung, lengan, kaki, serta beban benda. Berikut rating-rating
yang terdapat pada OWAS:

·        
Level 1            :
Postur normal, tindakan perbaikan tidak perlu dilakukan.

·        
Level 2            :
Postur mungkin menyimpan potensi bahaya, tidak memerlukan aksi perbaikan
segera, namun mungkin diperlukan di masa depan.

·        
Level 3            :
Postur mempunyai potensi bahaya, tindakan perbaikan harus diambil segera.

·        
Level 4            :
Postur mempunyai potensi sangat berbahaya, tindakan perbaikan harus diambil
sekarang.

 

II.3 Pengembangan Produk
Rasional Nigel Cross

Model perancangan ini
mengintegrasikan aspek prosedural desain dengan aspek struktural dari masalah
desain. Aspek prosedural ditunjukkan oleh urutan metode (berlawanan arah jarum
jam, dari kiri atas), dan aspek struktural ditunjukkan oleh panah yang
menunjukkan hubungan komutatif antara masalah dan solusi dan hubungan hierarkis
antara masalah / sub- masalah dan antara sub-solusi / solusi, hal
yang lebih ditekankan adalah memperluas ruang pencarian untuk memperoleh solusi
yang potensial dan mengupayakan kerjasama kelompok dalam penentuan
keputusannya. Hal yang paling sederhana dari metode rasional adalah checklist atau daftar periksa. Checklist dapat
mengeksternalisasikan apa yang harus dilakukan sehingga tidak perlu menyimpan
semua hal dalam ingatan perancang, namun tidak akan kehilangan sesuatu tersebut
(Cross,
1996)

Berikut tahapan-tahapan
pengembangan produk rasional (Cross, 1996):

1.         Klarifikasi Tujuan

2.         Penetapan Fungsi

3.         Menyusun Kebutuhan

4.         Penentuan Karakteristik

5.         Penentuan Alternatif

6.         Evaluasi Alternatif

 

II.3.1 Clarifying
Objectives

Clarifying Objectives ini
digunakan untuk menentukan tujuan perancangan. Metode ini seperti pohon tujuan,
fungsi dari metode ini untuk melakukan identifikasi tujuan dan sub tujuan dari
perancangan suatu produk berserta hubungan keduanaya. Percabangan pada pohon
tujuan merupakan hubungan yang menunjukan cara untuk mencapai tujuan tertentu.
Adapun langkah- langkah pada metode pohon tujuan adalah sebagai berikut:

1.                 
Membuat daftar tujuan
perancangan.

2.                 
Susun daftar dalam urutan tujuan
dari higher-level kepada lower-level.

3.                 
Gambarkan sebuah diagram pohon
tujuan, untuk menunjukan hubungan- hubungan yang hierarki.

II.3.2 Establishing
Functions

Establishing Functions
menentukan fungsi-fungsi yang diperlukan dan batasan-batasan sistem rancangan
produk baru. Pada tahapan ini menggunakan metode analisis fungsional. Adapun
tahapan dalam melakukan membuat analisis fungsional adalah sebagai berikut:

1.                 
Menyusun fungsi system secara
keseluruhan dalam bentuk    transformasi input/output.

2.                 
Mengelompokan sub-sub fungsi.

3.                 
Menggambar blok diagram.

4.                 
Menggambar pembatasan sistem.

5.                 
Mencari komponen yang sesuai
untuk menghasilkan sub-sub fungsi dan interaksi di antara sub-sub fungsi
tersebut.

II.3.3. Setting
Requirements

Langkah
ketiga ini memiliki tujuan untuk membuat spesifikasi kinerja yang akurat dari
suatu solusi rancangan yang diperlukan. Tahapan langkah ini adalah sebagai
berikut:

1.                 
Mempertimbangkan
tingkatan-tingkatan solusi yang berbeda yang dapat diaplikasikan.

2.                 
Menentukan tingkatan untuk
beroperasi.

3.                 
Identifikasi atribut-atribut
perfomansi yang diinginkan.

4.                 
Menentukan kebutuhan perfomansi
untuk setiap atribut.

II.3.4. Determining Characteristics

Pada
langkah ini adalah Determining
Characteristics yang bertujuan untuk menentukan target yang akan dicapai
oleh karakteristik teknik produk sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Metode yang digunakan pada langkah ini merupakan Quality Function Deployment (QFD) yang dapat didefinisikan adalah
suatu cara untuk meningkatkan kualitas barang atau jasa dengan memahami
kebutuhan konsumen kemudian menghubungkannya dengan ketentuan teknis untuk
menghasilkan suatu barang atau jasa pada setiap tahap pembuatan barang atau
jasa yang dihasilkan. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan QFD adalah sebagai
berikut:

1.                 
Mengidentifikasi kebutuhan
konsumen ke dalam atribut-atribut produk.

2.                 
Menentukan tingkat kepentingan
relatif dari atribut-atribut.

3.                 
Mengevaluasi atribut-atribut dari
produk pesaing.

4.                 
Membuat matriks perlawanan antar
atribut-atribut produk dengan karakteristik.

5.                 
Mengidentifikasi hubungan antar
karakteristik teknik dan atribut produk.

6.                 
Mengidentifikasi interaksi yang
relevan diantara karakteristik teknik.

7.                 
Menentukan gambaran target yang
ingin dicapai untuk karakteristik teknik.

II.3.5 Generating
Alternatives

Generating alternatives atau penentuan
alternatif adalah suatu proses perancangan yang berguna untuk membangkitkan
alternatif-alternatif yang dapat mencapai solusi terhadap permasalahan
perancangan. Metode yang digunakan dalam tahapan ini adalah Morfological Chart. Morfological Chart adalah suatu daftar atau ringkasan dari analisis
perubahan bentuk secara sistematis untuk mengetahui bagaimana bentuk suatu
produk dibuat.

Adapun
langkah-langkah dalam pembuatan Morfoligical
Chart adalah sebagai berikut:

1.                 
Mendaftar/membuat daftar yang
penting bagi sebuah produk. Daftar tersebut haruslah meliputi seluruh fungsi
pada tingkat generalisasi yang tepat.

2.                 
Daftar setiap fungsi yang dapat
dicapai yang menentukan komponen apa saja untuk mencapai fungsi. Daftar
tersebut meliputi gagasan
baru sebagaimana komponen-komponen yang ada dari bagian solusi.

3.                 
Menggambar dan membuat sebuah chart untuk mencantumkan semua
kemungkinan-kemungkinan hubungan solusi.

4.                 
Identifikasi kelayakan
gabungan/kombinasi sub-sub solusi. Jumlah total dari kombinasi tersebut mungkin
sangat banyak sehingga pencarian strategi mungkin harus berpedoman pada
konstrain atau kriteria.

II.3.6 Evaluating
Alternatives

Evaluating Alternatives adalah
suatu proses penentuan altarnatif terbaik dari berbagai macam alternatif yang
muncul, sehingga diperoleh suatu rancangan yang baik dan dapat memenuhi
keinginan konsumen. Tujuan
dari langkah ini adalah
untuk membandingkan nilai utilitas dari proposal alternatif rangan berdasarkan perfomansi dan pembobotan yang berbeda.

Adapun
langkah-langkah evaluasi alternatif adalah sebagai berikut:

1.                 
Membuat suatu daftar tujuan
perancangan. Daftar ini merupakan modifikasi dari daftar awal. Pohon tujuan
juga dapat digunakan untuk maksud ini.

2.                 
Menyusun subuah daftar tujuan dan
sub tujuan dari tingkatan yang tinggi ketinggian yang rendah. Metode yang
digunakan adalah Beban Objektif.

3.                 
Membuat bobot relatif dari setiap
tujuan. Pemberian bobot juga bias menggunakan perbedaan nilai dari setiap pohon
tujuan sehingga jumlah total bobot bernilai 1.

4.                 
Menciptakan parameter
pelaksanaan/nilai kegunaan untuk masing-masing tujuan. Baik tujuan kualitatif
maupun kuantitatif sebaiknya dibuat dalam skala yang lebih sederhana.

5.                 
Menghitung dan membandingkan
nilai relatif dari setiap alternatif perancangan. Perkalian setiap skor
parameter dengan bobot nilainya. Alternatif terbaik memiliki jmlah nilai
terbesar. Perbandingan dan analisis profil nilai mungkin akan lebih baik dalam
perancangan dari pada hanya sekedar memilih nilai terbesar.

II.4 Arsitektur produk

Arsitektur
produk adalah skema penyusunan elemen fungsional produk menjadi bentuk produk
atau Chunk yang bersifat fisik dan
menjelaskan bagaimana setiap Chunk
berinteraksi. Komponen-komponen yang mengimplementasi fungsi dari sebuah produk
adalah Chunk (Ulrich-Eppinger,2012).

Elemen-elemen
fisik dari setiap produk merupakan bagian, komponen, dan sub rakitan yang
nantinya diimplementasikan terhadap fungsi produk. Pada intinya desain
arsitektur produk adalah transformasi dari fungsi fungsi produk yang diinginkan
menjadi bentuk produk yang sesuai dengan kebutuhan (Muhammad Iqbal, 2015).

Langkah-langkah
dalam menetapkan arsitektur produk sebagai berikut (Muhammad Iqbal, 2015).

1.                 
Membuat skema produk, yaitu
diagram yang menggambarkan pengertian terhadap elemn-elemen penyusun produk,
yakni berupa elemen fisik, komponen kritis dan elemen fungsional.

2.                 
Mengelompokkan elemen-elemen pada
skema, yaitu menjadikan setiap elemen yang ada pada skema menjadi Chunk. Setiap Chunk  memiliki satu fungsi.
Elemen dengan fungsi yang sama dapat digabungkan dalam satu Chunk.

3.                 
Membuat susunan Geometris yang
masih kasar,yaitu susunan geometris dibuat dalam bentuk gambar, model komputer
atau model fisik yang terdiri dari 2 dan 3 dimensi, penyusunan Geometri yang
masih berbentuk kotak dapat memberikan beberapa alternatif penyusunan sehingga
tidak ada hubungan antara Chunk yang
saling bertentangan.

4.                 
Mengidentifikasi interaksi
fundamental dan Incidental.

II.5
Alasan Pemilihan Metode

Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah metode rasional dari Nigel Cross.
Model yang menggunakan suatu urutan yang sistematis dalam setiap tahapnya dan
lebih membatasi perancangan dengan tujuan perancangan apa yang ingin dicapai
dan dibutuhkan (Cross, 2000). Selain metode rasional terdapat metode kreatif
yang bertujuan untuk menstimulasi pemikiran kreatif dengan cara meningkatkan
produksi gagasan, menyisihkan hambatan mental terhadap kreativitas atau
memperluas area pencarian solusi dengan tidak membatasi perancangan untuk
menambah nilai inovasi pada produk (Ulrich, 2012).

Berdasarkan
penjelasan diatas, rancangan alat bantu pengisian pasir ini menggunakan metode
rasional karena perancangan ini akan dilakukan dengan penyesuaian permasalahan
yang dialami, dan kebutuhan tambahan dari stakeholder. Selain itu berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh (Prakosa & Tontowi, 2010) dengan judul
“Perbandingan Metode Rasional dengan Kreatif untuk Mendesain Alat Bantu Pasang
Lampu” menunjukkan hasil bahwa perancangan menggunakan metode rasional lebih
akurat menjawab kebutuhan dibandingkan dengan metode kreatif.

II.6
Perbandingan Penelitian

Perbandingan
penelitian berfungsikan untuk melakukan perbandingan diantara
penelitian-penelitian terdahulu untuk menjadi sebuah gambaran penilitian saat
ini. Berikut kelima penelitian terdahulu pada Tabel II.1 dan Tabel II.2

Tabel II. 1 Perbandingan Penelitian Terdahulu

No

Nama

Judul

Tahun

Tujuan

Metode dan Tools

1

Imelia Rizky Lestari

Perancangan material
handling equipment pada proses penggilingan ke oksidasi enzimatis bubuk
teh menggunakan metode perancangan produk rasional pada PT perkebunan
nusantara VII rancabali

2016

Menghasilkan perancangan material handling equipment yang terpilih untuk
proses penggilingan ke oksidasi enzimatis bubuk teh di PT perkebunan
nusantara VII rancabali untuk memaksimalkan proses penggilingan

Perancangan Produk Rasional, House of quality, Morphological Chart

2

Muhammad Iqbal

Arsitektur produk untuk rancangan produk multiple cutters

2015

Menghasilkan rancangan produk untuk membantu
proses produksi pemotongan permen, dodol, maupun produk sejenisnya dengan
penentuan arsitektur produk

Arsitektur produk

3

Krinta Alisa

Usulan perbaikan desain kemasan stick
strawberry kencana mas menggunkana metode quality function deployment

2015

Memberikan rekomendasi perbaikan
desain kemasan stick strawberry kencana
mas.

Quality Function Deployment

 

 

 

 

Tabel II. 2  Perbandingan Penelitian
Terdahulu (lanjutan)

No

Nama

Judul

Tahun

Tujuan

Metode dan Tools

4

I Gede Wisuda Pura

Pengujian dan perbaikan desain material
hanling equipment buncis di PT ABOFARM untuk meningkatkan efisiensi kerja
menggunakan metode pengembangan produk Ulrich Eppinger

2016

Membuat rancangan material handling
equipment yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi kerja

pengembangan produk Ulrich
Eppinger, arsitektur produk

5

Wresni Anggraini

Analisis postur kerja dengan menggunakan metode ovako working analysis system pada
stasiun pengepakan bandela karet PT. Riau Crumb Rubber Factory
Pekanbaru

2012

Menghasilkan
analisis disetiap postur kerja dan seberapa besar resikonya dan mana saja
yang harus diperbaiki

OWAS(Ovako Working
Analysis System)

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out