Hipertensi ke jaringan tubuh yang membutuhkannya menjadi terganggu

Hipertensi
merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sampai saat ini masih menjadi
masalah kesehatan secara global, baik di negara maju maupun di negara
berkembang. Hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah mengalami kenaikan
karena gangguan pada pembuluh darah, sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke
jaringan tubuh yang membutuhkannya menjadi terganggu (Nurarif & Kusuma,
2015). Hipertensi juga merupakan faktor resiko utama yang dapat menyebabkan
terjadinya penyakit kardiovaskuler. Apabila hipertensi tidak ditangani dengan
baik, maka dapat menimbulkan penyakit stroke, penyakit jantung koroner, gagal
jantung, demensia, gagal ginjal, dan gangguan penglihatan. World Health Organization (WHO) memperkirakan hipertensi
menyebabkan 9,4 juta kematian dan mencakup 7% dari beban penyakit di dunia.
Kondisi ini dapat menjadi beban bagi penderita baik dilihat dari segi
finansial, karena berkurangnya produktivitas sumber daya akibat dari komplikasi
penyakit ini, maupun dari segi sistem kesehatan.

WHO
(2014) mencatat bahwa terdapat sekitar 600 juta penderita hipertensi di seluruh
dunia. Prevalensi penderita hipertensi tertinggi terjadi di wilayah Afrika dengan
persentase 30%, dan prevalensi terendah terdapat di wilayah Amerika dengan
persentase 18%. Secara umum, laki-laki memiliki prevalensi hipertensi yang
lebih tinggi dibandingkan wanita. Prevalensi penderita hipertensi di Indonesia
sebesar 25,8%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di provinsi Bangka Belitung
(30,9%), diikuti oleh provinsi Kalimantan Selatan (30,8%), provinsi Kalimantan
Timur (29,6%) dan provinsi Jawa Barat (29,4%) (RISKESDAS, 2013). Di Indonesia,
pada usia 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada usia 45-64 tahun
sebesar 51% dan pada usia > 65 tahun sebesar 65%. Dibandingkan pada usia
55-59 tahun, pada usia 60-64 tahun terjadi peningkatan resiko hipertensi
sebesar 2,18 kali, usia 65-69 thun 2,45 kali dan usia >70 tahun 2,97 kali
(Rahajeng & Tuminah, 2009).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Berdasarkan
data dinas kesehatan kabupaten Garut hasil surveilans terpadu berbasis
puskesmas pada tahun 2015 dan 2016 hipertensi menduduki urutan pertama dalam
penemuan kasus baru. Pada tahun 2015 jumlah kasus baru penderita hipertensi
sebanyak 36.801 jiwa dari total kunjungan 62.751 jiwa dengan persentase 58,64%.
Sedangkan pada tahun 2016 kasus baru penderita hipertensi sebanyak 38.053 jiwa
dari total kunjungan 50.857 jiwa dengan persentase 74,82%. Sehingga terdapatnya
peningkatan penyakit hipertensi dari tahun 2015 sampai 2016.

Lanjut
usia atau lansia merupakan tahap akhir dari kehidupan manusia dan merupakan
proses alami yang akan dijalani dan tidak dapat dihindari oleh setiap manusia
sebagai makhluk hidup. Setiap lansia akan mengalami sebuah proses yaitu proses
menua (aging) yang merupakan suatu  proses perubahan seorang dewasa sehat menjadi
seorang yang lemah (frail) dengan
terjadinya perubahan fungsi fisiologis dan psikologis pada lansia (Sudoyo,
2009). Perubahan fungsi baik fisiologis maupun psikologis dapat mempengaruhi
pola tidur lansia, sehingga terjadi gangguan tidur pada lansia (Bandiyah, 2009).
Semakin bertambahnya umur manusia akan berdampak pada perubahan-perubahan pada
dirinya. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia tidak hanya berupa fisik,
tetapi juga kognitif, perasaan, sosial, dan sexual. Perubahan fisik lansia pada
sistem kardiovaskuler akan berpengaruh terhadap tekanan darahnya (Ma’rifatul
2011).

Menurut
Susilo & Wulandari (2011) adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan
darah yaitu faktor umur, jenis kelamin, genetik, nutrisi, obesitas, olah raga,
stress, merokok, dan kualitas tidur. Tidur sendiri merupakan suatu kebutuhan
dasar yang penting bagi kehidupan manusia, manusia menghabiskan waktu kurang
lebih sepertiga dari kehidupannya (± 8 jam dari 24 jam dalam sehari) dengan
tidur. Proses degenerasi pada lansia menyebabkan tidur efektif semakin
berkurang. Sehingga tidak mencapai kualitas tidur yang baik dan akan
menimbulkan berbagai macam keluhan tidur. Prevalensi gangguan pemenuhan
kebutuhan tidur pada lansia cukup meningkat yaitu sekitar 76%. Kelompok lansia
lebih mengalami sulit tidur sebanyak 40%, sering terbangun pada malam hari
sebanyak 30%, dan sisanya mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan tidur lain
(Amir, 2007).

Apabila
kualitas tidur buruk dan tidak terjadi penurunan tekanan darah saat tidur, maka
akan meningkatkan resiko terjadinya hipertensi yang berujung kepada penyakit kardiovaskuler
(Calhoun & Harding, 2012). Tekanan darah seseorang secara normal menurun
ketika sedang tidur normal karena penurunan aktifitas simpatis pada keadaan
tidur. Setiap 5% penurunan normal yang harusnya terjadi dan tidak dialami oleh
seseorang akibat kualitas tidur yang buruk, maka kemungkinan 20% akan terjadi
peningkatan tekanan darah. Selain itu, kebiasaan durasi tidur yang pendek juga merupakan
salah satu faktor yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah.
Kebutuhan waktu tidur bagi setiap orang berbeda, tergantung pada kebiasaan yang
dibawa selama perkembangannya menjelang dewasa, aktivitas pekerjaan, usia dan
kondisi kesehatan.  

Perubahan
irama sirkardian pada lansia ditunjukkan dengan terjadinya perubahan tidur
lansia pada fase NREM (Non Repaid Eye
Movement) 3 dan 4, sehingga lansia hampir tidak memiliki fase 4 atau tidur
dalam. Kesulitan dalam memulai tidur merupakan gangguan yang paling sering
dialami oleh lansia, apabila lansia berhasil masuk ke keadaan tidur, lansia
mengalami gangguan lain berupa tidur yang tidak berkualitas karena tidak
mencapai fase tidur yang dalam. Pasien akan sering mengalami terbangun tengah
malam dan mengalami mimpi buruk (Kozier, 2010).

Kualitas
tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran
dan kebugaran saat terbangun. Kualitas tidur adalah kemampuan setiap individu
untuk mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap tidur REM dan
NREM yang pantas (Khasanah, 2012). Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif
dari tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur serta aspek subjektif dari
tidur. Lansia membutuhkan kualits tidur yang baik untuk menjaga kesehatan dan
memulihkan kondisi dari sakit, istirahat dan tidur sama pentingnya dengan
kebutuhan dasar manusia yang lain. Tidur merupakan hal yang essensial bagi
kesehatan, manfaat akan tidur terasa ketika seseorang sudah mencapai tidur yang
berkualitas baik (Kozier, 2010).

Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Riska Havisa (2014) tentang hubungan kualitas
tidur dengan tekanan darah pada usia lanjut di Posyandu Lansia Dusun Jelapan
Sindumartani Ngemplak Sleman Yogyakarta, didapatkan hasil adanya hubungan
antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia. Penelitian lain yang
berhubungan dengan penelitian yang dilakukan sekeon dan kembuan (2015) tentang
hubungan kualitas tidur dengan keparahan stroke, didapatkan hasil bahwa tidak
ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur sebelum stroke dengan
tingkat keparahan stroke akut. Penelitian lain yang berhubungan dengan kedua
penelitian di atas dilakukan oleh Aisyah Muhrini Sofyan (2012) tentang hubungan
umur, jenis kelamin, dan hipertensi dengan kejadian stroke, didapatkan hasil
bahwa terdapat hubungan antara umur dan hipertensi dengan stroke, sedangkan
tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan stroke. Dari penelitian diatas
dapat disimpulkan bahwa kualitas tidur yang buruk pada lansia akan berdampak
pada gangguan sistem kardiovaskuler.

Menurut
Martono (2014) di negara maju panti rawat werdha disebut sebagai “nursing home”, yaitu suatu institusi
yang memberikan layanan bagi penderita lanjut usia dengan masalah medis yang
kronis yang sudah tidak memerlukan tindakan perawatan di RS, akan tetapi masih
terlalu berat untuk bisa dirawat di rumh sendiri. Oleh karena tidak memerlukan
tindakan spesialistik oleh dokter, maka biayanya bisa ditekan. Turn over rate juga rendah, akan tetapi
untuk kepentingan pendidikan, adanya bangsal ini di suatu RS pemerintah dapat
menggantikan keberadaan suatu bangsal kronis.

Berdasarkan
data rekam medis RPSTW Garut triwulan III tahun 2017 jumlah lansia yang tinggal
di RSPTW berjumlah 75 orang (kapasitas maksimal), dari 75 orang lansia tersebut
penderita hipertensi menduduki urutan pertama dengan jumlah penderita sebanyak
24 orang dengan persentase 32%. Hasil survei studi pendahuluan ini didukung
oleh hasil observasi yang dilakukan dengan wawancara kepada 7 orang lansia
secara acak. Didapatkan 4 orang lansia sering mengalami susah memulai tidur, 2
lansia sering terbangun pada malam hari, dan 1 lansia tidak mengalami gangguan
dalam tidur.

Berdasarkan
uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai Hubungan Kualitas
Tidur Dengan Kejadian Hipertensi di RPSTW Garut.

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out