BAB dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan. Teori

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

2.1
Landasan Teori

2.1.1 Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang
disajikan perusahaan berisi informasi sangat penting bagi manajemen dan pemilik
perusahaan atau pemegang saham. Disamping itu, banyak pihak yang memerlukan dan
berkepentingan terhadap laporan keuangan  yang dibuat perusahaan, seperti
masyarakat, pemerintah, pemasok, kreditur, investor, pelanggan dan karyawan
yang diperlukan secara tetap untuk mengukur kondisi dan efisiensi operasi
perusahaan. Dalam praktiknya laporan keuangan perusahaan tidak dibuat secara
serampangan, tetapi harus dibuat dan disusun sesuai dengan aturan atau standart
yang berlaku. 

Setiap
perusahaan yang telah menerapkan manajemen  pengelolaan perusahaan
menuangkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dalam bentuk laporan.
Diantara laporan yang dibuat adalah laporan keuangan yang berisi informasi
keuangan perusahaan yang memungkinkan manajer untuk menelaah kinerja dari
perusahaan tersebut.  

Laporan
Keuangan adalah laporan pertanggungjawaban menajer atau pimpinan perusahaan
atas pengelolaan perusahaan yang dipercayakan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan (stakeholder) terhadap perusahaan, yaitu pemilik perusahaan
(pemegang  saham), pemerintah (instansi pajak), kreditor (Bank atau
Lembaga Keuangan), maupun pihak yang berkepingan lainnya. 

Dalam
pengertian yang sederhana, laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan
kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam periode tertentu, laporan
keuangan menggambarkan pos-pos keuangan perusahaan yang diperoleh dalam suatu
periode. Kasmir (2008:7) secara umum, pengertian laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu. Sedangkan
menurut Harahap  (2008:105)
menyatakan bahwa “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil
usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun
jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba rugi,
laporan arus kas dan laporan perubahan posisi keuangan”. 

 

2.1.2
Theory Agency

Jensen
dan Meckling (1976) menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak
antara manajemen (agent) dengan investor (principal). Pandangan agency
theory adalah adanya pemisahan antara pihak principal dan agent yang
menyebabkan munculnya potensi konflik yang dapat mempengaruhi kualitas laba
yang dilaporkan. Teori keagenan ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan
yang dapat terjadi dalam hubungan keagenan (Einsenhard, 1989 dalam Deni
Darmawati, dkk 2004), yaitu : (1) masalah keagenan yang timbul pada saat
keinginan atau tujuan dari principal dan agent berlawanan dan
merupakan hal yang sulit bagi principal untuk melakukan verifikasi
tentang apa yang benar-benar dilakukan oleh agent; (2) masalah pembagian
resiko yang timbul pada saat principal dan agent memiliki sikap
yang berbeda terhadap resiko. Einsenhard dalam Darmawati, Khomsiyah dan Rahayu
(2004), menyatakan bahwa adanya asumsi yang mengenai sifat dasar manusia : (1)
manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir
terbatas mengenai persepsi manusia mendatang (bounded rationality), dan
(3) manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Ketiga sifat
tersebut menyebabkan informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain
selalu dipertanyakan reabilitasnya dan informasi yang disampaikan biasanya
diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya atau lebih
dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau assymerty informationt (Ujiyantho
& Pramuka, 2007), sehingga hal tersebut memberikan kesempatan kepada
manajer untuk melakukan manajemen laba.

Asimetri
antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) memberikan
kesempatan kepada manajer untuk bertindak opportunistic, yaitu
memperoleh keuntungan pribadi. Dalam hal pelaporan keuangan, manajer melakukan
manajemen laba (earnings management) untuk menyesatkan pemilik (pemegang
saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Dengan semakin tingginya asimetri
informasi antara manajer (agent) dengan pemilik (principal) yang
mendorong pada tindakan manajemen laba oleh manajemen akan memicu semakin
tingginya biaya keagenan (agency cost) dan menunjukkan adanya hubungan
positif antara asimetri informasi dengan manajemen laba (Richardson dalam
Ujiyantho & Pramuka, 2007).

2.1.3 Manajemen Laba

Beberapa peneliti
mendefinisikan manajemen laba dalam arti yang berbeda-beda. Schipper dalam
Midiastuty & Machfoedz (2003) mendefinisikan manajemen laba sebagai suatu
intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal
dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi; Fisher dan
Rosenzwerg mendefinisikan manajemen laba sebagai tindakan seorang manajer
dengan menyajikan laporan yang menaikkan (menurunkan) laba periode berjalan
dari unit usaha yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa menimbulkan kenaikan
(penurunan) profitabilitas ekonomi unit tertentu dalam jangka panjang.
Sedangkan menurut Healy dan Wahlen dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007), manajemen
laba terjadi ketika manajer menggunakan pertimbangan (judgment) dalam
pelaporan keuangan dan penyusutan transaksi untuk mengubah laporan keuangan
dengan tujuan untuk memanipulasi besaran (magnitude) laba kepada
beberapa stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk
mempengaruhi hasil perjanjian (kontrak) yang tergantung pada angka-angka
akuntansi yang dilaporkan.

Manajemen laba
merupakan pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen untuk mencapai tujuan
khusus. Dari definisi tersebut manajemen laba merupakan suatu proses yang
disengaja, menurut batasan standar akuntansi keuangan, untuk mengarahkan pelaporan
laba pada tingkat tertentu.

Healy dan Wahlen
dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa definisi manajemen laba
mengandung beberapa aspek. Pertama, intervensi manajemen laba terhadap
pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan penggunaan judgment,
misalnya judgment yang dibutuhkan dalam mengestimasi sejumlah peristiwa ekonomi di
masa depan untuk ditunjukkan dalam laporan keuangan, seperti perkiraan umur ekonomis dan nilai residu
aktiva tetap, tanggung jawab
untuk pensiun, pajak yang ditangguhkan, kerugian piutang dan penurunan nilai aset. Disamping itu
manajer mempunyai pilihan untuk metode akuntansi, seperti metode penyusutan dan metode biaya.
Kedua, tujuan manajemen laba untuk
menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Hal ini muncul ketika manajemen
memiliki akses terhadap informasi yang tidak dapat diakses oleh pihak luar.

Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya
manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), diantaranya : (1) Hipotesis program
bonus (the bonus plan hypothesis), merupakan dorongan manajer
perusahaan dalam melaporkan laba yang diperolehnya untuk memperoleh bonus yang
dihitung atas dasar laba tersebut. Manajer perusahaan dengan rencana bonus
lebih mungkin menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income yang
dilaporkan pada periode berjalan. Alasannya adalah tindakan seperti itu mungkin
akan meningkatkan persentase nilai bonus jika tidak ada penyesuaian untuk metode
yang dipilih; (2) Hipotesis perjanjian hutang (the debt covenanthypothesis),
muncul karena perjanjian antara manajer dan pemilik perusahaan berbasis
pada kompensasi manajerial dan perjanjian hutang (debt covenant). Semakin
tinggi resiko hutang atau ekuitas suatu perusahaan, yang ekuivalen dengan
semakin dekatnya (yaitu semakin ketat) perusahaan terhadap kendalakendala dalam
perjanjian hutang dan semakin probabilitas pelanggaran perjanjian, semakin
mungkin manajer untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income;
dan (3) Hipotesis politik (the political cost hypothesis), merupakan
motivasi yang muncul karena manajemen memanfaatkan kelemahan akuntansi dalam
menyiasati berbagai regulasi pemerintah. Perusahaan yang terbukti menjalankan
praktik pelanggaran terhadap regulasi anti trust dan anti monopoli,
manajernya melakukan manipulasi laba dengan menggunakan akrual untuk menurunkan
laba yang dilaporkan.

 

 

Pemilihan metode akuntansi dalam pelaporan laba akan
memberikan hasil

yang
berbeda terhadap laba yang dipakai sebagai dasar penghitungan pajak. Menurut
Scott (1997), terdapat empat pola manajemen laba, yaitu: (1) taking a bath;
(2) income minimization; (3) income maximization dan (4) income
smoothing.

1.      Taking
a bath, dimana teknik ini dilakukan dengan cara mengakui
biaya yang ada pada periode yang akan dating pada periode berjalan; hal ini
terjadi selama periode tekanan organisasi pada saat terjadinya reorganisasi,
termasuk adanya penggantian CEO baru. Jika sebuah perusahaan harus melaporkan
adanya kerugian, maka manajemen dapat merasa terdorong untuk melaporkan
kerugian yang besar. Healy (1985) melakukan penelitian mengenai manajemen laba
menggunakan hipotesis bonus plan dengan pola taking a bath.
Formula yang digunakan didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan terdiri atas
manajer yang menolak resiko (risk adverse) atau lebih dari satu pemilik.
Healy menemukan bukti empiris yang mendukung hipotesisnya. Implikasi yang
dikemukakan oleh Healy adalah manajer akan berlaku opportunistic ketika
menghadapi interporal choice. Manajemen laba dilakukan untuk mentransfer
kemakmuran dirinya dengan kebijakan akuntansi, bukan melalui keputusan operasi.

2.      Income
maximization, bahwa maksimalisasi laba bertujuan
untuk memperoleh bonus yang lebih besar. Laporan yang menunjukkan laba yang
besar akan menyebabkan meningkatnya bonus / kompensasi yang diperoleh oleh
manajer; hal ini mirip dengan melakukan taking a bath tetapi lebih luas.
Pola separti ini mungkin dipilih oleh perusahaan yang nampak secara politis
selama periode tertentu memiliki keuntungan yang besar. Perusahaan yang akan
mencoba melakukan pelanggaran perjanjian hutang akan melakukan income maximization.

3.      Income
minimization, dilakukan pada saat profitabilitas
perusahaan sangat tinggi dengan maksud mengurangi kemungkinan munculnya biaya
politis; para manajer melakukan pola sepeti ini untuk tujuan perolehan bonus,
dengan melakukan hal ini maka mereka tidak akan berada di atas cap.
Kebutuhan yang ada akan melakukan minimalisasi pendapatan termasuk melakukan write
off pada modal asset dan aktiva tidak berwujud, pengeluaran
periklanan, pengeluaran R&D, dan lain-lain.

4.      Income
smoothing, dilakukan oleh perusahaan karena perusahaan
cenderung lebih memilih untuk melaporkan trend pertumbuhan laba yang stabil
daripada perubahan laba yang meningkat / menurun secara drastis. Fudenberg dan Tirole
(1995) menyatakan bahwa kekhawatiran keamanan dalam pekerjaan akan mendorong
pihak manajer untuk melakukan income smoothing dengan pertimbangan kinerja
relatif saat sekarang dan kinerja di masa mendatang diperkirakan relatif
tinggi, maka pihak manajer akan melakukan pemilihan metode akuntansi yang dapat
meningkatkan discretionary accruals pada saat sekarang. Dampaknya,
manajer dalam lingkungan pekerjaan seperti ini akan ‘meminjam’ penghasilannya
di masa mendatang. Sedangkan jika pada saat sekarang penghasilan relatif
bernilai tinggi, tetapi penghasilan di masa mendatang diperkirakan relatif
rendah, maka pihak manajer akan melakukan pemilihan metode akuntansi yang dapat
menurunkan discretionary accruals untuk saat sekarang. Pihak manajer
dengan efektif akan menabung penghasilannya saat sekarang untuk kemungkinan
penggunaan di masa mendatang.

 

2.1.4 Arus Kas Bebas (Free Cash
Flow)

Jensen
(1986) mendefinisikan free cash flow adalah aliran kas yang merupakan
sisa dari pendanaan seluruh proyek yang menghasilkan net present value
(NPV) positif yang didiskontokan pada tingkat biaya modal yang relevan. Free
cash flow inilah yang sering menjadi pemicu timbulnya perbedaan kepentingan
antara pemegang saham dan manajer.

Ketika free cash flow tersedia, manajer
disinyalir akan menghamburkan free cash flow tersebut sehingga terjadi inefisiensi
dalam perusahaan atau akan menginvestasikan free cash flow dengan
return yang kecil (Smith dan Kim, 1994). White et al (2003)
mendefinisikan free cash flow sebagai aliran kas diskresioner yang
tersedia bagi perusahaan. Free cash flow adalah kas dari aktivitas
operasi dikurangi capital expenditures yang dibelanjakan perusahaan
untuk memenuhi kapasitas produksi saat ini.

Free cash flow dapat
digunakan untuk penggunaan diskresioner seperti akuisisi dan pembelanjaan modal
dengan orientasi pertumbuhan (growthoriented), pembayaran hutang, dan
pembayaran kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Semakin besar free cash flow yang
tersedia dalam suatu perusahaan, maka semakin sehat perusahaan tersebut karena
memiliki kas yang tersedia untuk pertumbuhan, pembayaran hutang, dan dividen.

Ross et al (2000)
mendefinisikan free cash flow sebagai kas perusahaan yang dapat
didistribusi kepada kreditur atau pemegang saham yang tidak digunakan untuk
modal kerja (working capital) atau investasi pada aset tetap. Free
cash flow menunjukkan gambaran bagi investor bahwa dividen yang dibagikan
oleh perusahaan tidak sekedar “strategi” menyiasati pasar dengan maksud
meningkatkan nilai perusahaan. Bagi perusahaan yang melakukan pengeluaran
modal, free cash flow akan mencerminkan dengan jelas mengenai perusahaan
manakah yang masih mempunyai kemampuan di masa depan dan yang tidak. Free
cash flow dikatakan mempunyai kandungan informasi bila free cash
flow memberi sinyal bagi pemegang saham (Rosdini, 2009).

 

2.1.5
Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu
perusahaan dapat ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata
total penjualan dan rata-rata total aktiva (Tiara, 2012:2). Ukuran perusahaan
dihitung dengan menggunakan logaritma natural dari total aktiva. Menurut Riyanto (1999:313),
yaitu: “Besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity,
nilai total penjualan, atau nilai total aktiva”. Perusahaan yang
berukuran besar lebih diminati oleh para analis dan broker, dimana laporan
keuangan yang dipublikasikan lebih bersifat transparan sehingga memperkecil
timbulnya asimetri informasi yang dapat mendukung timbulnya manajemen laba
(Azlina, 2010).

Semakin besar kapitalisasi pasar, maka semakain
dikenal dalam masyarakat (Sudarmadji dan Sularto, 2007 dalam Saffudin, 2011).
Ukuran perusahaan akan mempengaruhi struktur pendanaan perusahaan. Hal ini
menyebabkan kecenderungan perusahaan memerlukan dana yang lebih besar
dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Kebutuhan dana yang besar
mengindikasikan bahwa perusahaan menginginkan pertumbuhan laba dan juga
pertumbuhan tingkat pengendalian saham (Dewi, 2010 dalam Saffudin, 2011). Hal
tersebut menyebabkan faktor ukuran perusahaan yang menunjukkan besar kecilnya
perusahaan merupakan faktor penting dalam pembentukan manajemen laba.

Terdapat dua pandangan tentang bentuk ukuran
perusahan terhadap manajemen laba. Pandangan pertama, ukuran perusahaan yang
kecil dianggap lebih banyak melakukan praktik manajemen laba dari pada
perusahaan besar. Hal ini dikarenakan perusahaan kecil cenderung ingin
memperlihatkan kondisi perusahaan yang selalu berkinerja baik agar investor
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang besar lebih
diperhatikan oleh masyarakat sehingga akan lebih berhati-hati dalam melakukan
pelaporan keuangan sehingga berdampak pada perusahaan tersebut untuk melaporkan
kondisinya lebih akurat (Nasution dan Setiawan, 2007). Akan tetapi, pandangan
kedua memandang ukuran perusahan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen
laba. Watts and Zimmerman (1990) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar
yang memiliki biaya politik tinggi lebih cenderung memilih metode akuntansi
untuk mengurangi laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil.

 

 

 

 

 

 

2.2 Kajian Empiris

            Di
Indonesia sendiri sudah banyak penelitian-penelitian terdahulu mengenai
pengaruh arus kas bebas dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.
Bedasarkan penelitian dari Luh
Made Dwi Parama Yogi & I Gusti Ayu Eka Damayanthi (2016) bahwa arus kas
bebas (free cash flow) berpengaruh
negatif terhadap manajemen laba begitupula dengan hasil penelitian dari
Winingsih (2017) yang menyatakan hal demikian. Namun, pada penelitian Rezki
Zurriah, SE, M.Si (2017) arus kas bebas berpengaruh secara simultan dengan
variabel good corporate governance (kepemilikan institusional,
komisaris independen, ukuran dewan komisaris), ukuran perusahaan dan leverage
terhadap manajemen
laba. Kemudian berdasarkan penelitian dari Anak Agung Mas Ratih dan Ketut
Suryanawa (2017) didapatkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap manajemen laba yang mana bertolak belakang dari penelitian
Winigsih (2017) yang menyatakan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba.

 

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

No.

Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Hasil Penelitian

1.

Anak Agung Mas Ratih Astari & Ketut Suryanawa (2017)

Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Manajemen Laba

Variabel
independen (X) dari penelitian ini adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, pertumbuhan
penjualan. Lalu, untuk variabel dependen (Y) dari penelitian ini adalah
manajemen laba.

1.
Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan pada manajemen
laba.
2.
Kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan pada manajemen
laba. 3.Ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan pada manajemen
laba.
4.
Leverage berpengaruh positif dan signifikan pada manajemen laba.
5.
Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan pada manajemen laba.
6.
Pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan pada manajemen laba.

2.

Luh Made Dwi Parama Yogi & I Gusti
Ayu Eka Damayanthi (2016)

Pegaruh Arus Kas Bebas, Capital
Adequacy Ratio dan Good Corporate Governance Pada
Manajemen Laba.

Variabel
independen (X) dari penelitian ini adalah arus kas bebas, capital adequacy ratio, good corporate governance. Dan
variabel dependen (Y) dari penelitian ini adalah manajemen laba.

Hasil
dari penelitian ini adalah:
1.
Arus kas bebas berpengaruh negatif pada manajemen laba.
2.
Capital adequacy ratio (CAR) berpengaruh positif pada manajemen laba.
3.
Good Corporate Governance (GCG) yang diproksi dengan dewan komisaris
independen, komite audit, kepemilikan manajerial dan kepemilikan
institusional tidak berpengaruh pada manajemen laba.

3.

Winingsih
(2017)

Pengaruh Free Cash Flow,
Leverage, Likuiditas,
Profitabilitas, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2012 – 2015)
 

Variabel
independen (X) dari penelitian ini adalah free
cash flow, leverage, profitabilitas, dan ukuran perusahaan. Dan untuk
variabel dependen (Y) dari penelitian ini adalah manajemen laba.

Hasil
dari penelitian ini adalah:
1.
Free Cash Flow tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
2.
Leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
3.
Likuiditas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
4.
Profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba.
5.
Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

4.

Rezki Zurriah, SE, M.Si (2017)

Pengaruh
Good Corporate Governance, Arus Kas
Bebas, Ukuran Perusahaan dan Leverage Terhadap
Praktek Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index)

Penelitian
ini memiliki variabel independen (X) yaitu good corporate governance (kepemilikan institusional, komisaris
independen, ukuran dewan komisaris), arus
kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage. Untuk variabel dependen (Y)
penelitian ini adalah manajemen laba.

Secara
simultan good corporate governance (kepemilikan institusional,
komisaris independen, ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan
dan leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Secara
parsial kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris,
arus kas bebas dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba sedangkan leverage berpengaruh positif dan signifikan
terhadap manjemen laba.

 

 

 

 

 

 

2.3 Hipotesis Penelitian dan
Kerangka Pemikiran

2.3.1 Hubungan Arus Kas Bebas dan
Ukuran Perusahaan dengan Manajemen Laba

Semakin besar kapitalisasi pasar, maka semakain
dikenal dalam masyarakat (Sudarmadji dan Sularto, 2007 dalam Saffudin, 2011).
Ukuran perusahaan akan mempengaruhi struktur pendanaan perusahaan. Hai ini
menyebabkan kecenderungan perusahaan memerlukan dana yang lebih besar
dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Kebutuhan dana yang besar
mengindikasikan bahwa perusahaan menginginkan pertumbuhan laba dan juga
pertumbuhan tingkat pengendalian saham (Dewi, 2010 dalam Saffudin, 2011).
Ukuran perusahaan yang besar secara tidak langsung akan memiliki tingkat arus
kas yang lebih kompleks dibandingkan dengan perusahaan kecil karena perusahaan
yang besar memiliki kegiatan operasi yang besar pula sehingga akan mengasilkan
laba dari operasi yang tinggi. Dampaknya perusahaan yang besar juga akan
memiliki arus kas bebas yang tinggi. Pada penelitian Agustia (2013) menyatakan
perusahaan yang memiliki arus kas bebas tingggi cenderung tidak melakukan
manajemen laba. Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis utama
penelitian ini adalah:

H1: Arus kas bebas dan
ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

2.3.2 Hubungan Arus Kas Bebas
dengan Manajemen Laba

Perusahaan yang memiliki nilai arus kas bebas tinggi
cenderung tidak melakukan manajemen laba. Hal ini disebabkan karena sebagian
besar investor dalam perusahaan merupakan transient investors (pemilik
sementara perusahaan) yang lebih terfokus pada informasi jumlah arus kas bebas
yang menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen
(Agustia, 2013). Perusahaan akan mampu meningkatkan harga sahamnya, karena
investor menilai perusahaan memiliki sejumlah kas untuk pembagian dividen. Wang
(2010) juga menyatakan bahwa keberadaan arus kas bebas dalam perusahaan justru
dapat meningkatkan peluang investasi yang akan menghasilkan nilai lebih bagi
perusahaan. Perusahaan akan lebih mampu bertahan dalam situasi yang buruk
karena memiliki kesempatan untuk melakukan investasi dan belanja modal dalam
rangka mempertahankan operasi yang sedang berjalan.

H2: Arus kas bebas
berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

 

2.3.3 Hubungan Ukuran Perusahaan
dengan Manajemen Laba

Perusahaan yang berukuran besar biasanya
memiliki peran sebagai pemegang kepentingan yang lebih luas. Hal ini membuat
berbagai kebijakan perusahaan besar akan memberikan dampak yang besar terhadap
kepentingan publik dibandingkan perusahaan kecil (Ningsaptiti, 2010). Moses
dalam Yendrawati, dan Nugroho (2012) mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan
yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan
laba (salah satu bentuk manajemen laba) dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Menurut Anggraeni (2013) variabel ukuran
perusahaan dengan proksi total asset terbukti tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba. Sejalan dengan hasil penelitian Winingsih (2017) yang melakukan
Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2012-2015, menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba.

H3: Ukuran
perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

 

2.3.4 Kerangka
Pemikiran

            Berdasarkan pembentukan
hipotesis diatas dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:

 

 

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out