Abstract ini adalah untuk menentukan seberapa kuat data

 

Abstract

 

Surat adalah media
komunikasi jarak jauh untuk menyampaikan suatu informasi dan sekarang sudah
berkembang dengan adanya internet yaitu dengan adanya Short Message Service, E-Mail, Chat. Akan tetapi dengan teknologi
baru media komunikasi jarak jauh menjadi tidak aman karena dengan internet
semua bisa diakses oleh siapapun dan dimanapun. Jadi diciptakannya suatu metode
untuk mengamankan isi dari informasi dengan komunikasi jarak jauh tersebut dan
digunakan suatu proses pengubahan dari bentuk awal informasi menjadi kode –
kode tertentu agar tidak bisa di baca oleh pihak yang tidak berwenang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 

Keywords: Enkripsi,
Dekripsi, Kriptografi, DES, AES.

 

 

1.   
Pendahuluan

 

Seiring
berjalannya waktu masyarakat di dunia mulai meninggalkan tradisi surat
menyurat. Surat adalah sarana berkomunikasi jarak jauh untuk menyampaikan suatu
informasi yang ditulis oleh suatu pihak kepada pihak lain sebagai sarana
pemberitahuan, permintaan, pengingat dan pedoman kerja1. Akan
tetapi di zaman sekarang untuk berkomunikasi jarak jauh dapat dilakukan dengan
mudah, cepat dan praktis dengan adanya Short
Message Service, E-mail dan ada juga media chat dengan aplikasi seperti
(Whatsapp, Line, BBM). Media tersebut bisa diakses menggunakan teknologi
internet. Namun tidak selamanya media tersebut bisa aman karena teknologi
internet bisa diakses oleh siapapun dan dimanapun. Oleh karena itu diciptakan
proses untuk mengamankan informasi dengan membuat informasi tersebut tidak bisa
dibaca tanpa pengetahuan yang khusus. Proses tersebut dinamakan proses
Enkripsi.

 

Enkripsi
merupakan bagian dari Kriptografi. Kriptografi adalah metode yang digunakan
untuk menjaga kerahasiaan dari informasi yang merupakan unsur terpenting dalam
sistem informasi. Agar informasi yang penting tidak dapat diakses orang lain
dan tidak bocor kepada pihak yang tidak dituju serta melindungi pesan yang ada
dalam informasi tersebut agar tetap utuh.

 

Terdapat
banyak algoritma yang dipakai dalam kriptografi. DES (Data
Encyption Standard) merupakan salah satu algoritma yang sering dipakai beberapa
waktu yang lalu yang digunakan menjadi standar. Seiring perkembangan zaman
munculah algoritma pengganti yang disebut AES (Advance Encryption Standard).
Tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan seberapa kuat data
yang dienkripsi dan mengetahui korelasi antara DES dan AES.

 

 

2.   
Tinjauan Pustaka

 

Dalam
penelitian perbandingan S-Box DES dan S-Box AES berdasarkan nilai korelasi.
Hasil yang diperoleh yaitu algoritma AES menggantikan algoritma DES tetapi
tidak secara s-box. Karena dalam prinsip blokcipher hanya s-box yang secara
algoritma mampu membuat hubungan yang tidak linier. Kriptografi s-box Des akan
lebih efektif apabila jumlah bit plaintextnya dalam jumlah besar. Berdasarkan
perbandingan efesiensi bit ciphertext antara dua rancangan kriptografi s-box
AES dan DES, dapat disimpulkan sebelum dilakukan proses kedalam s-box maka
dilakukan proses ekspansi untuk mendapatkan hasil ciphertext yang lebih
efesiensi. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan sebagai metodologi
baru dalam kriptografi simetris yang dapat membantu penelitian kriptografi2.

 

Penelitian
lain mengenai perbandingan analisis sandi linear terhadap AES, DES dan AE1.
Diperoleh AES-128 memiliki ketahanan yang besar untuk menghadapi
ASL, karena analisis sandi tersebut hanya mampu memecahkan AES hingga 6 ronde,
sedangkan AES-128 memiliki 10 ronde. Bandingkan dengan DES lengkap yang dapat
dipecahkan ASL dengan 243 plaintext, di mana DES memiliki masukan 64 bit.
Ketahanan cipher terhadap sebuah analisis sandi tidak otomatis menyebabkannya
tahan terhadap analisis sandi lainnya. Ini terlihat dari ketahanan Rijndael
terhadap ASL setelah 4 ronde, namun dengan Square attack, 4 Ronde Rijndael
dapat dipecahkan dengan mudah. Sebaliknya, DES yang lemah menghadapi ASD dan
ASL, ternyata memiliki ketahanan yang besar terhadap square attack. AE1 yang
memiliki ketahanan yang lebih besar dibanding AES maupun DES terhadap ASL untuk
jumlah ronde yang sama, namun lebih lambat dalam hal kecepatan eksekusi. Untuk
memecahkan DES 16 ronde lengkap dengan serangan 2 ronde, diperlukan 2 43
plaintext, untuk AES 6 ronde diperlukan 2 200 plaintext, dan untuk AE1 6 ronde
diperlukan 2 272 plaintext yang diketahui. Sedangkan untuk ronde lengkap, AE1
mebutuhkan 2 408 plaintext dengan 2R-attack, sedangkan AES membutuhkan 2 400
plaintext. Pembuktian keamanan algoritma kriptografi lebih sulit dari pada
pembuatan algoritmanya, sehingga penulis menyarankan agar penelitian mengenai
analisis sandi ditingkatkan3.

Penelitian
lain mengenai perbandingan performa pada AES. Diperoleh baik algoritma advanced enryption standard (AES) maupun
algoritma  twofish menggunakan prinsip confusion dan diffusion dari shanon.
Keduanya berhasil menyembunyikan hubungan apapun yang ada antara plainteks,
chiperteks dan kunci4.

 

DES termasuk ke dalam sistem kriptografi simetri dan
tergolong jenis cipher blok. DES dirancang untuk melakukan enchiper dan
dechiper data yang berisi 56 bit dibawah kendali 56 bit kunci internal atau
upakunci. Dalam melakukan dechiper harus dilakukan dengan menggunakan kunci
yang sama dengan saat proses enchiper tetapi sat melakukan dechiper pemberian
halaman berubah sehingga proses dechiper merupakan kebalikan dari proses
enchiper. Sejumlah data yang akan di enchiper disebut sebagai permutasi awal
atau initial permutation (IP). Komputasi key – dependent didefinisikan sebagai
fungsi f sebgai fungsi chipper dan function KS sebagai key schedule. Deskripsi
dari komputasi diberikan pertama, bersama dengan detail bagaimana algoritma
digunakan dalam proses enchiper. Selanjutnya, penggunaan algoritma untuk proses
dechiper dideskripsikan. Pada akhirnya, sebuah definisi chipper fungsi f
diberikan dalam bentuk fungsi primitive yang disebut fungsi seleksi Si dan
fungsi permutasi P5.

 

Skema Global DES :

 

a.      
Pada awalnya, blok
plainteks dipermutasi dengan matriks permutasi awal (initial permutation atau
IP). Hasil dari permutasi awal tersebutkemudian di enchiper sebanyak 16 kali
atau 16 putaran. Setiap putarannya menggunakan kunci internal yang berbeda.
Hasil dari proses enchiper kembali dipermutasi dengan matrikspermutasi balikan
(invers initial permutation atau IP-1 ) menjadi blok cipherteks.

Gambar 1. Skema Global DES.

 

b.     
Dalam proses
enchiper, blok plainteks terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian kiri (L) dan
bagian kanan (R), yang masing masing memiliki panjang 32 bit. Pada setiap
putaran i, blok R merupakan masukan untuk fungsi transformasi fungsi f. Pada
fungsi f, blok R dikombinasikan dengan kunci internal Ki. Keluaran dari fungsi
ini di XOR kan dengan blok L yang langsung diambil dari blok R sebelumnya. Ini
merupakan 1 putaran DES. Secara matematis, satu putaran DES dinyatakan sebagai
berikut :

c.      
Catatlah bahwa
satu putaran DES merupakan model jaringan Feistel (lihat Gambar 2.2.2).

Gambar 2. Jaringan Feistel
untuk satu putaran DES.

 

Pada tahun 1972 dan 1974 National
Bureau of Standards (sekarang dikenal dengan nama National Institute of
Standards and Technology, NIST) menerbitkan permintaan kepada publik untuk
pembuatan standar enkripsi. Hasil dari permintaan pada saat itu adalah DES
(Data Encryption Standard), yang banyak digunakan di dunia. DES adalah sebuat
algoritma kriptografi simetrik dengan panjang kunci 56 bit dan blok data 64
bit. Dengan semakin majunya teknologi, para kriptografer merasa bahwa panjang
kunci untuk DES terlalu pendek, sehingga keamanan algoritma ini dianggap kurang
memenuhi syarat. Untuk mengatasi hal itu, akhirnya muncul triple DES.

Triple DES pada waktu itu dianggap
sudah memenuhi syarat dalam standar enkripsi, namun teknologi yang tidak pernah
berhenti berkembang akhirnya juga menyebabkan standar ini dianggap kurang
memenuhi syarat dalam standar enkripsi. Akhirnya NIST mengadakan kompetisi untuk
standar kriptografi yang terbaru, yang dinamakan AES (Advanced Encryption
Standard). Dari hasil seleksi yang dilakukan oleh NIST, akhirnya NIST memilih 5
finalis AES, yaitu : Mars, RC6, Rijndael, Serpent, dan Twofish. Kompetisi ini
akhirnya dimenangkan oleh Rijndael dan secara resmi diumumkan oleh NIST pada
tahun 20016.

a.
   Representasi Data Input dan output dari
algoritma AES terdiri dari urutan data sebesar 128 bit. Urutan data yang sudah
terbentuk dalam satu kelompok 128 bit tersebut disebut juga sebagai blok data
atau plaintext yang nantinya akan dienkripsi menjadi ciphertext. Cipher key
dari AES terdiri dari key dengan panjang 128 bit, 192 bit, atau 256 bit. Urutan
bit diberi nomor urut dari 0 sampai dengan n-1 dimana n adalah nomor urutan.
Urutan data 8 bit secara berurutan disebut sebagai byte dimana byte ini adalah
unit dasar dari operasi yang akan dilakukan pada blok data.

b.
   Enkripsi Proses enkripsi pada algoritma
AES terdiri dari 4 jenis transformasi bytes, yaitu SubBytes, ShiftRows,
Mixcolumns, dan AddRoundKey. Pada awal proses enkripsi, input yang telah
dikopikan ke dalam state akan mengalami transformasi byte AddRoundKey. Setelah
itu, state akan mengalami transformasi SubBytes, ShiftRows, MixColumns, dan
AddRoundKey secara berulang-ulang sebanyak Nr. Proses ini dalam algoritma AES
disebut sebagai round function. Round yang terakhir agak berbeda dengan
round-round sebelumnya dimana pada round terakhir, state tidak mengalami
transformasi MixColumns.

 

c.      
Dekripsi
Transformasi cipher dapat dibalikkan dan diimplementasikan dalam arah yang
berlawanan untuk menghasilkan inverse cipher yang mudah dipahami untuk
algoritma AES. Transformasi byte yang digunakan pada invers cipher adalah
InvShiftRows, InvSubBytes, InvMixColumns, dan AddRoundKey. Algoritma dekripsi
dapat dilihat pada skema berikut ini :

 

Gambar 3. Jaringan Feistel
untuk satu putaran DES.

 

Penyandian
blok pada dasarnya adalah proses penyandian terhadap blok data yang jumlahnya
sudah ditentukan. Untuk sistem penyandian blok terdapat empat jenis mode
operasi, yaitu Electronic Code Book
(ECB), Cipher Block Chaining (CBC), Cipher Feedback (CFB), Output Feedback
(OFB).

 

Cipher Feedback
(CFB) Pada mode CBC, proses enkripsi
atau dekripsi tidak dapat dilakukan sebelum blok data yang diterima lengkap
terlebih dahulu. Masalah ini diatasi pada mode Cipher Feedback (CFB). Pada mode CFB, data dapat dienkripsi pada
unit-unit yang lebih kecil atau sama dengan ukuran satu blok. Misalkan pada CFB
8 bit, maka data akan diproses tiap 8 bit.

 

Gambar 4. Mode Operasi CFB

Output Feedback (OFB). Sama pada mode CFB, mode OFB
juga memerlukan sebuah register geser
dalam pengoperasiannya. Pertama kali, IV akan masuk ke dalam register geser dan dilakukan enkripsi
terhadap IV tersebut. Dari hasil proses enkripsi tersebut akan diambil 8 bit
paling kiri untuk dilakukan XOR dengan plaintext
yang nantinya akan menghasilkan ciphertext.
Ciphertext tidak akan diumpan balik
ke dalam register geser, tetapi yang
akan diumpan balik adalah hasil dari enkripsi IV.

 

Gambar 5. Mode Operasi OFB

 

 

 

 

 

 

3.   
Metodologi Penelitian

 

Perbedaan antara DES dan AES berdasarkan nilai
korelasinya terbentuk dari 3 tahap seperti pada Gambar 6 yaitu : (a)
tahap pertama adalah penentuan topik; (b) tahap kedua adalah pengumpulan data
dari data yang mau diuji(sample); (c)
tahap ketiga adalah pemrosesan data dengan DES dan AES.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Tahapan Perbandingan nilai Korelasi
DES dan AES.

 

1.      

2.      

3.      

3.1.    
Penentuan Topik

 

            Menentukan
Topik, merupakan tahap awal yang sangat penting karena dengan penentuan topik
ini, tujuan dari penelitian bisa lebih jelas dan terperinci.

 

3.2.    
Pengumpulan Data

 

            Pengumpulan
data yang digunakan adalah pengumpulan data sekunder karena pengumpulan data
yang dilakukan berasal dari internet, journal dan buku, dan proses ini
merupakan tahap penting dalam melakukan sebuah penelitian.

 

3.3.    
Pemrosesan Data dengan DES dan AES

 

Pengujian hasil,
merupakan tahap dimana hasil yang sudah didapat dari tahap sebelumnya diuji
kebenarannya agar tidak terjadi kesalahan dalam penelitian.

 

 

4.   
Hasil  dan
Pembahasan

 

Disini
pengujian yang dilakukan yaitu menghitung korelasi dari DES dan AES menggunakan
metode CFB dan OFB. Dengan melihat korelasi diantara keduanya nantinya akan
dapat dibedakan mana yang lebih baik.

 

Ditentukan
data sebagai sample pengujian seperti
yang ada pada Tabel 1.

 

No

Plaintext

1

TEKNOLOGIINFORMASI

2

MICHAELTEDJAISKANDAR

3

SAYAINDONESIA

4

SALATIGA

Tabel
1. Tabel
sample pengujian

 

DATA ENCRYPTION STANDARD (DES)

 

Proses enkripsi plaintext dengan metode CFB dan OFB
serta menggunakan algoritma DES. Enkripsi ini menggunakan program berbasis web
dengan alamat http://des.online-domain-tools.com/. Selain itu perhitungan dari
web ini juga didukung dengan perhitungan dari Microsoft excel. Pada web ini,
kunci yang digunakan bisa bermacam – macam sesuai ketetuan dari DES, dan dapat
di ambil contoh kunci yang digunakan yaitu FTIUKSW.

Gambar 7. Tabel Sample DES
CFB & OFB

 

ADVANCED ENCRYPTION STANDARD (DES)

 

Proses enkripsi plaintext dengan metode CFB dan OFB
serta menggunakan algoritma AES. Enkripsi ini menggunakan program berbasis web
dengan alamat http://aes.online-domain-tools.com/. Selain itu perhitungan dari
web ini juga didukung dengan perhitungan dari Microsoft excel. Pada web ini,
kunci yang digunakan bisa bermacam – macam sesuai ketetuan dari AES, dan dapat
di ambil contoh kunci yang digunakan yaitu FTIUKSW.

Gambar 8. Tabel Sample AES
CFB & OFB

 

Hasil

            Berikut adalah hasil dari pengujian yang telah
dilakukan. Untuk DES dengan metode CFB memang hasilnya mendekati 1 yang berarti
tidak aman berbeda dengan AES metode CFB yang hasilnya menjauh dari 1.
Sedangkan untuk DES dengan metode OFB memiliki keunggulan dibanding dengan AES
tapi tidak terlalu signifikan. Tabel 2 adalah hasil pengujiannya.

 

 

 

 

 

 

 

No

Plainteks

DES

AES

CFB

OFB

CFB

OFB

1

TEKNOLOGIINFORMASI

0,756126

0,149598

0,042008

0,377058

2

MICIHAELTEDJAISKANDAR

0,3505

0,16119

0,202846

0,006647

3

SAYAINDONESIA

0,206254

0,20971

0,198351

0,259897

4

SALATIGA

0,079393

0,058727

0,089399

0,051306

 

RATA – RATA

0,348068

0,144806

0,133151

0,173727

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2.
Tabel hasil pengujian

 

Gambar 9. Gambar hasil pengujian DES dan AES
dengan metode CFB

 

 

Gambar 10. Gambar hasil pengujian DES dan AES
dengan metode OFB

5.   
Kesimpulan dan Saran

 

5.1.Kesimpulan

Dari
penelitian terdahulu dengan beberapa referensi terkait perbedaan DES dan AES
dikatakan bahwa AES memiliki tingkat keamanan yang lebih baik daripada DES.
Meskipun DES merupakan algoritma yang sudah lama dan sudah banyak pengalaman
serta banyak digunakan di dunia, tingkat keamanannya kurang cukup. Sedangkan
AES memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi. Terbukti dari hasil pengujian
dimana AES memiliki korelasi yang menjauhi angka 1 yang berarti lebih baik dari
pada DES.

 

5.2.Saran

Pengembangan
lebih lanjut untuk penelitian ini dapat dilakukan dengan metode lain seperti
ECB atau CBC untuk mengetahui perbandingan korelasi yang lebih baik tentang DES
dan AES.

 

6.   
Daftar Pustaka

 

1.
Wirajaya, A. Y. (2009, 05 23). SURAT – MENYURAT.
Diambil kembali dari UNS:  http://asepyudha.staff.uns.ac.id/2009/05/23/surat-menyurat/

 

2. Jusepa, R. (2016). Perbandingan Proses Subtitusi S-Box
DES dan S-Box AES.

3. Kurniawan, Y. (2007). PERBANDINGAN ANALISIS SANDI
LINEAR TERHADAP. JUTI, 57 – 63.

4. Herianto, I. (2015). ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMANSI
ALGORITMA AES DAN TWOFISH.

5. Buana, D. U. (15). Modul Kriptografi.

6. Wibowo, W. A. (2004). ADVANCED ENCRYPTION STANDARD,
ALGORITMA RIJNDAEL.

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out