1.1. wasiat nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub kepada

1.1. Latar Belakang

Islam sebagai rahmatan lil’alamin
(rahmat bagi seluruh alam), telah menjadikan manusia merasa nyaman dalam
kehidupannya, mendapatkan kemulian dengan menganutnya, hingga menyelesaikan
berbagai masalah kemanusian. Islam telah mengisi dimensi ruang kehidupan
manusia; hukum, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bagi seorang muslim, Islam adalah jalan
kehidupan (way of life) untuk menuju kesempurnaan hidup sesungguhnya yaitu alam
akhirat, karena Islam adalah agama yang diridhai Sang Maha Pencipta. (QS. Ali
Imran: 19)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Untuk menjadi jalan kehidupan, seorang muslim harus memahami Islam
seutuhnya, memahami islam dari berbagai dimensi pendekatan agar didapatkan
pemahaman yang komprehensif dan tidak parsial. Syaikh Hasan Al Banna mengatakan
bahwa Islam sistem yang syamil (menyeluruh),
mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air atau
pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan,
wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan
alam atau penghasilan dan kekayaan, serta perjuangan dan dakwah atau pasukan
dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang
benar, tidak kurang tidak lebih.1

Namun dalam makalah ini akan dibahas Islam dengan pendekatan normatif,
pendekatan yang bersifat tekstual dalam pemahaman sakral berdasarkan apa yang
termaktub dalam Al Quran dan Hadits sebagai sumber rujukan utama Islam itu
sendiri. 

      

1.2. Rumusan Masalah

Rumsan masalah dalam makalah ini bagaimana memahami Islam dengan pendekatan
normatif, pendekatan untuk memahami Islam dari asalnya sebelum diterjemah
dengan pemikiran manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi
Islam

Ahmad Abdul Wahab menjelaskan bahwa secara
bahasa Islam berasal dari bahasa Arab yaitu ??? (salima) atau   ???? (sallama) artinya selamat dan ridha terhadap hukum. ???? ???? ??? ???? (menyerahkan urasannya
kepada Allah SWT). ?????? (As Salam) Adalah sifat Allah yang artinya selamat dan
terlepas dari kekurangan/aib. Ada juga dari kata ???? (saalama) artinya memperbaiki. Atau ?????? (istaslama) artinya berserah.

Secara bahasa (terminologi) Islam adalah
tunduk kepada Allah dan hidup dalam bingkai sistem-Nya. Maka seorang muslim
adalah orang menyerahkan hati dan dirinya kepada Allah. 2

 

2.1.1. Islam Sebagai Agama

Islam sebagai agama difahami Islam sebagai
sebuah keyakinan yang bersifat trandesental kepada Allah. Islam menjadi sebuah sistem yang mengatur hidup manusia sejak mereka ada di muka
bumi ini. Kalau kita perhatikan maka Islam merupakan agama para nabi dan rasul
Allah, mereka mengatakan bahwa mereka adalah muslim.

Nabi Nuh mengatakan, “Aku diperintah untuk
menjadi orang-orang Islam” (QS. Yunus: 72). Begitu juga wasiat nabi
Ibrahim, Ishak, dan Yakub kepada keturunannya, “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132). Perkataan nabi Musa
kepada kaumnya, “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka
bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri
(muslim)”. (QS. Yunus: 84).

Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa
Islam sebagai agama adalah suatu kumpulan peraturan yang ditetapkan Allah untuk
menuntun para umatnya memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. 3

 

2.1.2. Sumber pokok ajaran Islam

Sumber pokok ajaran Islam adalah Al
Quran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya
merupakan sumber rujukan hukum dan petunjuk sempurna. Ketikan terjadi
peselisihan maka semuanya dikembalikan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah
saw, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Menurut Manna Al Qattan, Al Quran adalah firman  dan wahyu Allah SWT yang diturnkan kepada nabi
Muhammad saw, yang tertulis dalam musshaf, yang sampai kepada kita dengan cara
mutawatir, dan membacanya adalah ibadah.4

Tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin bahwa apa yang ada dalam Al
Quran itu turun dari Allah dan wajib ditaatinya. Al Quran
adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim dan humkumnya wajib diikuti.5 Karena
kebenarannya adalah mutlak, “Yang tidak datang kepadanya
(Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan
dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat:
42). Allah SWT
menjaga keaslian Al Quran dari campur tangan manusia,  “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan
Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr: 9) jadi jelas
bahwa Al Quran sebagai sumber utama Islam untuk diikuti.

Sumber pokok yang kedua adalah sunnah Rasulullah saw yang termaktub dalam
kitab-kitab hadits. Sunnah ini mendapatkan jaminan dari Rasulullah saw agar
dijadikan rujukan, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika
kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat
selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. (HR. Al-Hakim)

Sunnah itu sendiri adalah segala ucapan, perbuatan, dan penetapan
Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw menjalankan fungsinya sebagai model ideal
dalam mempresentasikan nilai-nilai ajaran langit di antara lingkungan para
sahabatnya sebagai laboratorium kewahyuan. Sunnah ini membahas syariat dengan
sangat luas.

 

2.1.3. Pilar-pilar Islam

Pilar-pilar Islam atau kita kenal dengan rukun Islam, dimana Islam
dianalogikan sebagai sebuah bangunan kokoh yang ditopang oleh pilar-pilar penyangga.
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra. dia berkata : Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun
diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain
Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (HR. Turmuzi dan Muslim).

Kelima pilar ini merupakan dasar
pokok yang menjadi identitas Islam, hingga melaksanakan rukun islam ini adalah
wajib, bahkan ketika ada muslim yang menolak kewajiban rukun islam ini, maka
dia menjadi kafir. Semua bersifat normatif dan hitam
putih, para ulama menyebutnya dengan al malum minad dini dharurah
(perkara-perkara pokok agama penting yang tidak ada perbedaan di dalam
kewajibannya). Mengingkari salah satu bagian dari rukun islam ini sudah
termasuk keluar dari Islam.

Ibnu Rajab mengatakan, “Bahwa kelima rukun Islam ini berkaitan antara satu
dan lainnya, tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang hanya meyakini salah satunya
saja maka dia tidak akan diterima.” 6

 

2.2. Pendekatan Islam Normatif

2.2.1. Pengertian
Islam Normatif

Islam
normatif adalah islam pada dimensi sakral yang diakui adanya realitas
transendetal yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau
sering disebut realitas ke-Tuhan-an. Pada umumnya normativitas ajaran wahyu
dibangun, dibakukan dan ditelaah lewat berbagai suatu pendekatan doktrinal
teologis. Disini jelas bahwa Islam merupakan sebuah sistem universal yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam islam segala hal yang
menyangkut kebutuhan manusia, dipenuhi secara lengkap semuanya diarahkan agar
manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan manusiawi sesuai dengan
kodrat kemanusianya.

Jika hal
ini dilakukan, maka akan selamat dunia akherat. Sebagai sebuah sistem, islam
memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Al-Quran dan Al-Hadits. Al-Quran
dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum islam yang pertama dan utama,
sedang hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Ketika Al-Quran
dan Hadits dijadikan, dipahami dan dijadikan sebagai obyek kajian, maka muncullah
penafsiran pemahaman dan pemikiran. Demikian juga lahirlah berbagai jenis ilmu
islam yang kemudian disebut”???????
?????????” atau “Islamic
Studies”. Jika Al-Quran dan Hadits, dipahami dalam bentuk pengetahuan islam,
maka kebenaranya berubah menjadi relatif, dan tidak lagi mutlak. Hal ini karena
pemahaman, pemikiran dan penafsiran merupakan hasil upaya manusia dalam
mendekati kebenaran yang dinyatakan dalam Wahyu Allah 6. dan sunnah
Rasulullah..Karena produk manusia, maka hasilnya relatife bisa benar, tapi juga
bisa salah. Bisa benar untuk waktu
tertentu, tapi tidak untuk waktu yang lain. Untuk memahami Al-Quran dan Hadits
sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi
pemahaman Islam yang tepat, akurat dan responsible. Dengan demikian, diharapkan
Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada Al-Quran dan Hadits
dapat dipahami secara komprehensif. Dan diantara pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan Normatif.

Pendekatan
normatif diartikan sebagai hal-hal yang mengikuti aturan atau norma-norma
tertentu. Dalam konteks ajaran Islam, pendekatan normatif merupakan ajaran
agama yang belum tercampur dengan pemahaman dan penafsiran manusia.7
Pendekatan normatif dapat juga dikatakan pendekatan yang memiliki domain
bersifat keimanan, tanpa melakukan kritik kesejarahan atas nalar lokal dan
nalar jaman yang berkembang, serta tidak memperhatikan konteks kesejarahan
al-Qur’an. Pendekatan normatif mengasumsikan seluruh ajaran Islam (dalam
al-Qur’an, Hadis dan ijtihad) sebagai
suatu kebenaran yang harus diterima dan tidak boleh diganggu-gugat.8

 

2.2.2. Aplikasi Islam
Normatif

Dalam aplikasinya, pendekatan nomatif tekstualis barangkali tidak menemui
kendala yang cukup berarti ketika dipakai untuk melihat dimensi islam normatif
yang bersifat Qoth’i. persoalanya justru akan semakin rumit ketika pendekatan
ini dihadapkan pada realita dalam Al-Quran maupun Hadits yang tidak tertulis
secara eksplisit namun kehadiranya diakui dan bahkan diamalkan oleh komunitas
tertentu secara luas.

Contoh yang
paling kongkrit adalah adanya ritual tertentu dalam komunitas muslim yang sudah
mentradisi secara turun temurun, seperti slametan(Tahlilan atau kenduren). Dari
uraian tersebut terlihat bahwa pendekatan normatif tekstualis dalam memahami
agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari
keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya sehingga tidak perlu
dipertanyakan lebih dulu, melainkan dimulai dari kaeyakinan yang selanjutnya
diperkuat dengan dalil-salil dan argumentasi.

Pendekatan
normatif tektualis sebagaimana disebutkan diatas telah menunjukan adanya
kekurangan yang antara lain eksklusif dogmatis, tidak mau mengakui adanya paham
golongan lain bahkan agama lain dan sebagainya. Namun demikian melalui pendekatan
norrmatift tektualis ini seseorang akan memiliki sikap militansi dalam
beragama, yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya sebagai yang
benar, tanpa memandang dan meremehkan agama lainya. Dengan pendekatan yang
demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agam yang di anutnya.
Saat ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di
dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.Agama tidak boleh
hanya sekedar menjadi lambang keshalihan atau berhenti sekedar disampaikan
dalam khutbah,melainkan secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban
terhadap masalah yang timbul. Seiring perkembangan zaman yang selalu berubah
dan disertai dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan manusia,maka
menjadi sebuah keniscayaan untuk memahami agama sesuai dengan zamanya. Oleh
karena itu, berbagai pendekatan dalam memahami agama yang bersumber dari
al-Quran dan Hadits memiliki peran yang sangat setrategis. Dalam kaitan ini
agama tampil sangat prima dengan seperangkat ciri khasnya. Agama islam secara
normatif pasti benar dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Untuk bidang
sosial agama tampil menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan,
kesetiakawanan, tolong menolong,tenggang rasa, persamaan derajat dan
sebagainya. Untuk bidang ekonomi agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaan,
kejujuran dan saling menguntungkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan agama tampil
mendorong pemeluknya agar memiliki pengetahuan dan tehnologi yang
setinggi-tingginya, menguasai ketrampilan, keahlian dan sebagainya. Demikian
pula untuk bidang kesehatan, lingkungan hidup, kebudayaan, politik dan
sebagainya agama tampil sangat ideal dan yang dibangun berdasarkan dalil-dalil
yang terdapat dalam ajaran agama yang bersangkutan.

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Agama sebagai objek kajian dapat
didekati dengan menggunakan berbagai pendekatan. Studi Islam secara metodologis
memiliki urgensi dalam konteks untuk memahami cara mendekati ajaran Islam, baik
pada tataran realitas-empirik maupun normatif-doktrinal secara utuh dan tuntas.
Islam tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja, dengan menafikan sudut
pandang lainnya yang kehadirannya sama-sama penting. Apabila Islam hanya
dilihat dari satu sisi, maka akan menimbulkan reduksi dan distorsi makna.
Implikasi logis dari hal diatas adalah gambaran ajaran Islam yang utuh, tanpa
diwarnai oleh sikap apologetik dan klaim kebenaran sepihak yang akan sulit tercapai.

Perkembangan jaman yang demikian
pesat dan disertai dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan
manusia, menjadi sebuah tuntutan untuk lebih memahami agama sesuai jamannya.
Tuntutan terhadap agama dapat dijawab dengan pemahaman agama yang menggunakan
pendekatan normatif-teologis, serta dilengkapi dengan pendekatan lain, dimana
secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang
timbul. Jadi sebaiknya umat tidak memahami Islam hanya melalui pendekatan
normatif-teologis, agar pemahaman tentang Islam menjadi lebih terintegrasi,
universal dan komprehenshif.

 

 

 

  

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hilmi, Masdar
dan A. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, (Surabaya: Arkola, 2005),

Ibnu Rajab, Jami al Ulum wa al Hikam,
Beirut, Dar al Fikr, 2003, cet. I,

Endang Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat,
dan Agama,

Manna Al Qattan, Mabahits fi ulumil Quran,
Kairo, Maktabah Wahbah, Cet. 7,

Jumah Amin Abdul Aziz, Fahmul Islam fi
Dzilalil Ushul Isyrin, Kairo, Dar Ad Da’wah, 1999, cet. 5, hlm. 38

Adi Mansah, Studi Islam Dengan Pendekatan Normatif, Program
Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta 2011

 

 

 

 

 

1
Hasan Al Banna, Majmuatu Rasail,

2
Ahmad Abdul Wahab, Al Islam wal
Adyan al ukhra, Kairo, Maktabah Wahbah, 1998, Cet. III, Hlm. 13

3
Endang Saifudin Anshari, Ilmu,
Filsafat, dan Agama, Hlm. 50

4
Manna Al Qattan, Mabahits fi
ulumil Quran, Kairo, Maktabah Wahbah, Cet. 7, hlm. 16

5
Jumah Amin Abdul Aziz, Fahmul Islam fi Dzilalil Ushul Isyrin, Kairo, Dar
Ad Da’wah, 1999, cet. 5, hlm. 38

6
Ibnu Rajab, Jami al Ulum wa al
Hikam, Beirut, Dar al Fikr, 2003, cet. I, hlm. 54

7 Masdar Hilmi dan A. Muzakki, Dinamika
Baru Studi Islam, (Surabaya: Arkola, 2005), hlm. 63

8 Ibid, hlm.
64

x

Hi!
I'm Isaac!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out